Author : Chovinda Ayu Safitri
Title : Let Me meet U
Cast : - Park Ri Hyo (Chovinda Ayu Safitri)
- Super Junior's member
Genre : Sad, romantic, tragedy
- (Eunhyuk’s POV)
Satu tahun yang lalu seorang gadis cantik meninggalkanku dan juga meninggalkan kita. Aku merasa sangat kehilangan seorang jewELF seperti dia, seorang jewELF yang sangat aku cintai. Aku harap dia mendapatkan tempat yang paling indah disisi Tuhan, disini aku selalu mendoakannya. ~
“Hyung, sedang apa kau?” suara yang familiar itu mengagetkanku. Kuusap air mata dipipiku dan menoleh padanya. Aku tidak mau Donghae melihat air mataku jatuh lagi dan lagi.
“E…emh… Aku sedang… sedang memikirkan jadwal show untuk besok.” Aku sangat tidak pandai berbohong padanya, tapi aku harap Donghae mempercayai semua alasanku.
“Kenapa kau pikirkan, Hyung? Semua sudah ada schedulenya.” lagi lagi dia menjawab dengan nada yang sangat sulit aku tebak.
“Hahaa… aku melupakan itu saeng. Maafkan hyungmu yang terlalu babo ini.” sudah aku duga, Donghae tidak mudah mudah dibohongi.
Aku tidak percaya dengan alasannya kali ini, pasti ada yang dia sembunyikan dariku. *Donghae's Inner*
Sangat bodoh, alasanku sangat tidak masuk akal. Bagaimana Donghae bisa percaya kalau alasanku sangat kampungan seperti ini, paboyaaa~. Intinya aku tidak ingin semua hyung dan dongsaengku tahu kalau aku masih menagisi kepergian gadis itu.
“Hyung, matamu merah. Kau menangis lagi?” sekejap perkataan Donghae membuatku kaget. Seketika wajahku menjadi merah padam. Aku sudah berusaha menyembunyikan mataku yang sembap gara gara menangis tadi, tapi Donghae tidak bisa dibohongi. Dia mengerti apa saja yang aku sembunyikan. Aku terdiam ~~
“Kau masih memikirkan gadis itu? Jawab aku, Hyung!!” perkataannya seolah bagai cambukan untukku.
“Ne. Aku masih memikirkannya, aku masih menangisi kepergiannya. Setiap hari ~” Aku tidak bisa membohongi Donghae. Kata kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Biarkan dia tenang disana, Hyung. Kau tentu tidak mau kalau dia sedih hanya karena melihatmu menangis.” Ya, Donghae benar. Aku tidak mau kalau dia sedih karena melihatku menangis. Setelah lama terdiam, aku mendengar suara berisik di arah pintu. Mungkin itu Choco yang sedang bermain seperti biasnya.
“Dimana semangatmu yang dulu, Hyung? Dimana kau membuang semangatmu itu? Tunjukkan padanya kalaukau akan memenuhi pesan terakhirnya untuk berjuang demi kita, demi Super Junior.” Pipiku mulai basah, air mataku jatuh. Aku tidak tahu kenapa aku bisa lemah setelah kepergiannya. Tapi Dongahe benar, aku harus memenuhi pesan terakhirnya untukku agar terus berjuang demi Super Junior.
“Nde. Aku harus membuatnya bahagia, saeng. Karena aku menyayanginya lebih dari apapun ~~~.” Aku belum menyelesaikan perkataanku, tapi terdengar suara GUBRAAAAK~~~. Aku melihat semua hyung dan dongsaengku didepan pintuyang tiba tiba terbuka. Aku langsung melihat mataku yang merah di cermin. Sangat merah. Aku mengambil kacamata hitam dan memakainya. Lagi lagi dengan alasan aku tidak mau hyung dan dongsaengku melihatku menangis, cukup Donghae saja.
“Apa yang kalian lakukan?” Mataku tertuju ke arah pintu yang penuh sesak dengan orang" bertelinga besar
“E…eh… Kita Cuma lewat, tapi…tapi Shindong menabrak kami tepat didepan pintu.” Magnae yang satu ini sangat pintar membuat alasan, sampai sampaisemua yang ada disana melihatnya terpana.
“Apa yang kau lakukan dengan kacamata hitam itu didalam rumah, Hyuk?” tiba tiba Leeteuk hyung melontarkan kata kata yang membuat jantungku hampir copot.
"Kacamata? Yah, aku hanya ingin mengabadikannya dalam sebuah foto. Ini kan kacamata baruku, hyung.” Sudah aku bilang dari awal kalau aku tidak begitu pintar mencari alasan.
“Baru? Bukannya kacamata itu kau beli saat bersama Ri Hyo? Itu sudah lama, hyuk-ahh.” Mendengar Leeteuk hyung mengucap nama Ri Hyo aku langsung terdiam. Aku baru sadar kalau aku mengambil kacamata yang aku beli bersama Ri Hyo setahun yang lalu. Aku tidak begitu berkonsentrasi. Ahh, Hyukkie paboyaa ~~
<flashback oktober=""> - (Park Ri Hyo’s POV)</flashback>
Aku membuka mata dari tidurku. Meskipun aku insomnia, aku bersyukur masih bisa merasakan tidur walaupun hanya 1-2 jam. Yang pertama kulihat saat aku terbangun adalah gambar 13 laki laki tampan ang ada di tembok kamarku. Kupandangi gambar mereka, gambar yang menjadi obat semangatku. Setelah aku puas melihat gambar mereka, aku membuka jendela dan mengucap salam pada alam.
“Good morning ~~” Aku mendapatkan hadiah kesejukan dari alam sesaatsetelah jendela kamarku terbuka.
“Annyeong oppa. Aku berharap hari ini berjalan lancar. Kalau bisa, aku ingin bertemu kalian hari ini juga.”
Kata kata itu keluar setiap hari dari mulutku. Tidak ada kata bosan saat aku menyapa oppadeul Super Junior. Aku tidak ingin beranjak keluar dari kamar, aku ingin seluruh hariku melihat wajah mereka. Dan aku berharap wajah mereka secara nyata bisa aku lihat nantinya.
“Sayang, kamu harus masuk hari ini. Cepet siap siap ya!” Suara eomma sudah menjadi alarm harian bagiku. Beliau tidak akan membiarkanku memasang alarm otomatis (baca : jam beker), karena eomma tahu aku tidak akan bangun kalau hanya alarm otomatis yang membangunkanku. Hahaa, dasar Ri Hyo pemalas ~
“Ne eomma, dua menit lagi yah. Oppa, aku mau sekolah. Aku bakal rajin rajin belajar demi kalian.” Aku melanjutkan kata kata yang belum terselesaikan :D
Aku pun meninggalkan kamar dan menuju kamar mandi (jelas aja mau mandi :D). butuh waktu lebih dari setengha jam kalau aku sudah dikamar mandi *berendem kaleee*. Setelah keluar dari kamar mandi, aku merasa ada hal yang aneh. Kepalaku pusing, seluruh tulangku terasa kaku. Tapi aku harus kuat untuk sekolah, aku tidak mau hanya karena kepala pusing aku tidak berangkat sekolah. Aku berjalan menuju kamar dan memakai seragam sekolah seperti biasanya.
Semuanya sudah siap, tapi saat aku akan berpamitan dengan oppadeul, kepalaku terasa pusing lagi, pandanganku kabur, aku tidak bisa bergerak sedikitpun, hidungku juga mulai penuh darah. Aku berusaha untuk duduk ditepi kasur dan mengusap darah dihidungku, namun tiba tibasemuanya menjadi gelap.
~ ~ ~ ~ ~
Saat aku membuka mata, hanya ada ruangan serba putih. Dari arah pintu aku melihat appa-eomma dan seseorang berjas putih sedang mengobrol. Aku sudah familiar ditempat seperti ini. Yah benar, ini dirumah sakit. Leukemia sudah membuatku tidak berdaya akhir akhir ini. Aku ingin bertemu oppadeul sebelum aku pergi nanti, ucapku dalam hati bersamaan dengan air mata yang keluar dari mataku. Mereka adalah satu satunya alasan untukku agar aku tetap bersemangat menjalani hari hariku.
Aku baru ingat, aku belum mengirim pesan pada oppadeul di website mereka hari ini. Setiap hari aku selalu mengirim pesan untuk mereka, entah itu puisi atau kata kata penyemangat.
“eomma~~” panggil rintihku pada eomma.
"Ne, chagi. Mwoyo?" suara eomma langsung menyambut teriakan lembutku.
Aku tidak bisa berteriak keras lagi sekarang,infus dihidungku menahan suaraku agar bisa lebih pelan. Aku muak dengan semua ini, aku tidak mau setiap hari berbaring lemah disini.
“Laptopku mana? Aku ingin menulis sesuatu.” pintaku pada eomma yang sedang membaca buku. entah buku apa itu,
“Tunggu bentar, eomma ambilkan jagi.” Eomma menutup bukunya dan beranjak ke arah meja.
Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan eomma sampai seperti ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan selain berbaring. Setelah beberapa lama kemudian, eomma kembali dengan membawa laptop silver kesayanganku.
“Ini laptop kamu. Tapi jangan lama lama dipangku, bisa bahaya.”
“Ne, eomma.”
Bibirku tersenyum menjawab nasehat eomma. Aku ingin eomma melihatku seperti orang yang sudah sehat, agar appa-eomma bisa membawaku pulang dari ruangan serba putih ini secepatnya. Aku merindukan poster poster besar dikamarku, aku merindukan semua gambar oppadeul yang tertempel disana. Perlahan kutulis kata demi kata untuk oppadeul, berharap satu dari mereka sedang tidak sibuk dan menyempatkan membaca ataupun menjawab pesanku ini.
Annyeong oppa ~
Sudah lama aku mengecap pahit,
Tidak pernah aku merasakan indahnya manis dihidupku.
Aku tidak ingin pagi sampai senjaku selalu mendung
Aku ingin kaian meneranginya dengan sinar mentari
Aku ingin kalian menjadi mentari itu,
Mentari yang menerangi hari hari gelapku.
E.L.F ~ Ri Hyo
Terlalu biasa mungkin, tapi hanya kata itu yang ada diotakku. Kusematkan fotoku dibawah kata kata itu. Fotoku yang memakai gelang rantai bertulikan “SJ_Ri-Hyo”. Saking fanatiknya aku sebagai ELF, aku membuta gelang yang sengaja aku pesan ditoko langgananku. Tidak lama setelah aku mengirim pesan tiu, ada balasan. “Kami akan selalu menjadi apa yang kau inginkan. Karena kami adalah kau, dan kau adalah kami.” – replay
Siapa yang membalas pesanku? Apakah salah satu dari oppadeul? Tapi kalau oppa, mana mungkin, akhir akhir ini mereka sedang sibuk promo. Kata itu terbayang dalam otakku. Akhirnya kuurungkan niatku untuk mereplay ulang, aku berpikir sama saja aku mereplay seseorang yang bukan oppa, aku kan mengirim pesan untuk mereka.
~ ~ ~ ~ ~
Sudah tiga hari aku berbaring di rumah sakit, sudah tiga hari juga aku tidak melihat gambar-gambar oppadeul yang teramat besar dikamar. Terasa hampa memang, ada sesuatu yang kurang. Tapi setiap hari aku sempatkan mengirim pesan pada oppadeul.
Annyeong oppa~
Neomu neomu neomu neomu bogoshipoo…
E.L.F ~ Ri Hyo
Hanya dua kalimat itu yang aku kirim. Meskipun tak begitu banyak, dua kalimat itu cukup mewakilkan perasaanku saat ini pada oppadeul. Fotoku yang sedang memakai gelang rantai bertuliskan “SJ_Ri-Hyo” pun tak pernah lupa disematkan dibawahnya. Sekitar lima menit kemudian, ternyata ada balasan. “We miss you too…♥” – replay. Aku masih belum yakin yang membalas pesanku ini adalah salah satu dari oppadeul. Lagi lagi aku tidak mereplay ulangnya. Ahh, dasar paboyaa ~
Aku ingin pulang hari ini, aku sangat merindukan oppadeul sejak pertama masuk rumah sakit ini. Bogoshipo, oppa…
“Sayang, hari ini kamu sudah boleh pulang.” Eomma membuka pintu dan member kabar bahagia itu.
“Jeongmal, eomma?” rasanya tubuhku seperti tersiram air yang sangat hangat.
“Ne, makanya sekarang eomma mau beres beres dulu. Kamu bantuin eomma yah!” beliau mondar mandir disekitar kamar. Apa yang sedang eomma lakukan?
“Araseo.” Jawabku sambil meneguk susu buatan rumah sakit yang rasanya tidak bisa aku jelaskan.
Bibirku tersungging bahagia. Yes, aku akan pulang hari ini. Dan itu berarti aku bisa melihat gambar gambar oppadeul yang teramat besar dikamarku, meskipun itu bukan mereka yang asli. Aku pun bersemangat membantu eomma beres beres.
#at home
Aku membuka pintu mobil dan langsung berlari masuk ke kamar, meskipun aku melihat appa-eomma masih mengambil barang barang di bagasi. Tidak masalah, aku sudah merindukan oppadeul yang setia menanti disetiap sudut tembok kamarku #PD amat.
“oppa~ bogoshipoo, neomu neomu neomu neomu bogoshipo.” Aku berteriak saat memasuki kamar dan melihat gambar gambar oppadeul.
Meskipun kepalaku sedikit pusing, aku cukup bersemangat untuk menyentuh semua gambar oppadeul. Aku merasakan kenyamanan saat menyentuh mereka meskipun hanya gambar. Kubuka laptop silverku dan mulai mengirim pesan pada oppadeul. Yah, itu yang aku lakukan setiap hari tanpa rasa bosan sedikitpun.
Annyeong oppa~
Kalian memang pengemangatku
Ternyata sang matahari memang telah menyinari hari gelapku…
Gamsahamnida, oppa ~~
Saranghamnida …
E.L.F ~ Ri Hyo
Sebuah foto tidak pernah lupa aku tinggalkan dibawah pesan itu. Yah benar, aku tidak pernah mengganti foto yang aku sematkan disana. Dari awal aku mengirim pesan sampai sekarang, aku tetap memakai satu foto yaitu saat aku memakai gelang rantai bertuliskan “SJ_Ri-Hyo” *udah bosen dari tadi ngomongin itu mulu :D*
Hah? Langsung ada balasan?, Aku bertanya dalam hati. “Kita tidak akan membiarkan hari harimu selalu gelap, kita akan membuatnya terang. Saranghaeyoo…” - replay. Aduuh, aku masih bingung sebenernya siapa yang membalas pesanku terus menerus ini. Oppadeul? Manager oppadeul? atau Lee So Man? Aiish, bingung. Aku tutup aja laptopku ~ *paboyaa*
(Eunhyuk’s POV)
Aku membuka laptopku yang penuh yadong,lalu mulai membuka website Super Junior buat ELF, lagi lagi disana ada pesan dari salah satu ELF. Aku perhatiin dia selalu menulis pesan lebih dari satu kali dalam sehari. Aku penasaran juga dengan dia. Aku balas saja kiriman pesannya, tapi setelah aku membalasnya, dia tidak mereplay ulang. Lo? Kenapa yah?
“Sedang apa kau, hyung? Nonton yadong?” Suara yang sudah biasa aku dengar setiap hari itu mengagetkanku. Jelas aja, dia ngomong sambil teriak teriak. Gimana kupingku yang gedek.
“Kalo ngomong yang pelang, Donghae-ahh!! Kuping hyungmu ini bisa gedek tauk!” jawabku sambil meneriaki Donghae.
“Mianhae, hyung. Kau sedang apa sih?” Donghae mendekat sambil melirik laptopku.
“Lihat! Setiap hari dia mengirim pesan pada kita, tapi saat aku membalasnya dia tidak mereplay ulang.” Aku menjelaskan kata demi kata padanya. Semoga aja Donghae mengerti, dia kan tidak terlalu bisa mencerna cerita dengan baik. *mianae elfishy*
“Mungkin tulisanmu jelek, hyung. Jadi dia nggak tertarik mau bales lagi.” DOnghae menjawabnya dengna enteng tanpa beban.
Helloooooooo ~~~, ini kan pake website bukan surat menyurat ala Siti Nurbaya, jadi otomatis tulisannya diketik dong. Gimana bisa tulisannya gue jelek?
“Dasar kau ikaaaaan~” naik darah kalau ngobrol dengan Donghae-ahh.
“Kau membalas pesan darinya saja?” dia kembali melontarkan pertanyaan. Emangnya gue murid lu?
Donghae menunjuk foto perempuan yang memakai gelang rantai putih. Heyyy… tunggu dulu! Gelang itu ada tulisannya. Bentar deh, bentar. Yaa! Tulisannya “SJ_Ri-Hyo” *melototin foto*. Padahal foto itu sudah bertahun tahun ada disini, tapi kenapa aku baru sadar kalo dia memakai gelang gitu yak. Paboyaa~
“aniyo. Aku membalas pesan dari yang lain juga, tapi tidak sesering aku membalas pesan darinya” *menunjuk foto*
“Lalu kapan kau membalas pesanku, hyung? Aku selalu mengirim pesan untukmu, tapi kau tidak pernah membalasnya. Kau jahat, hyung!” Ya ampuun, Donghae memasang wajah melas. Kasihan banget dia.
“Tapi aku kan selalu ada disampingmu.” Aku harus pintar pintar merayu Donghae. Kalau tidak, dia bisa mewek sekenceng kencengnya.XD
Kesedihanku memang sedikit berkurang karena celotehan Donghae, tapi tetap saja aku masih memikirkan perempuan yang memakai gelang rantai bertuliskan “SJ_Ri-Hyo” itu.
<monday> (Ri Hyo’s POV)</monday>
Aku harus masuk sekolah hari ini. Aku tidak mau hari hariku selalu di rumah, aku juga ingin belajar seperti yang lain. Ku lihat jadwal pelajaran. Biokimia, mathematics, seni music, English. Pelajaran yang membuatku cukup bersemangat. Langsung saja aku bersiap siap untuk berangkat.
“Kamu mau kemana ?” suara eomma dari dapur selalu mengagetkanku. Menegurku sangat tiba tiba. Rupanya beliau melihatku.
“Mau sekolah lah, eomma. Kan aku pake seragam sekolah.” Yahh, cengiranku cukup membuat eomma terseyum meskipun awalnya beliau terlihat khawatir padaku.
“Sekolahnya dianter appa ya, jagi ~” eomma masih terlalu khwatir padaku. Biasanya beliau membiarkanku berangkat sekolah dengan bus sekolah, tapi sekarang…
“Araseo, eomma” aku hanya ingin mengurangi rasa khawatir eomma. Jadi, aku ‘iya’kan saja tawaran eomma.
#at school
Semuanya berjalan sesuai yang aku harapkan. Meskipun ketinggalan pelajaran selama ±1 minggu, tapi aku masih bisa mengikutinya. Saat istirahat aku mulai membuka laptop silverku. Yah, apalagi yang aku lakukan selain mengirim pesan pada oppadeul. Tapi kali ini aku akan mengirim sesuatu yang berbeda.
Annyeong hyuk-ppa ~
Kenangan terindah adalah rasa, rasa yang tidak mungkin terlupakan.aku menyebutnya 'cinta'.Cinta itu tak terlihat, tak tersentuh, juga tak terkira. Namun cinta itu terasa ~ di hati.Cinta tidak akan pergi, tidak akan hilang, juga tidak akan kabur.Namun ia hanya bersembunyi untuk kembali.Aku hanyalah kunang kunang dalam gelapKunang kunang yang setia menemani malam..Namun disisi lain aku melihatmu bagai bintang.Bintang yang paling terang di angkasa.Inginku terbang jauh untuk meraihmu wahai bintang.Namun apa daya kunang kunang sepertiku yang tidak bisa menggapaimu, menyentuhmu, bahkan memelukmu.Tetaplah menjadi bintang yang paling terang dilangit.Agar aku bisa melihat pesona indahmu. Pesona sang bintang paling terang.Dalam kegelapan malam kunang kunang berkata, "aku mengagumimu, aku mencintaimu wahai bintang paling terang".
Selalu kutinggalkan fotoku dibawah pesan itu. Foto yang sama seperti hari hari sebelumnya. Kali ini suratku hanya aku buat untuk eunhyuk oppa, machine dance of Super Junior yang sangat aku cintai. Setelah aku mengirim pesan itu, tiba tiba aku tenggelam dalam lamunan yang dalam *lebay banget XD*. Sesuatu yang membangunkanku dari lamunan adalah obrolan teman teman tentang Super Junior. Langsung saja aku menutup laptopku dan mendengarkan obrolan teman temanku *ngupingan nih :D*. aku melihat ada replay dalam pesanku, tapi aku lebih interest dengan obrolan kali ini.
“Kamu ikut fans conference sama Super Junior?” telingaku semakin mendengarkan kata demi kata dari mulutnya.
“Ne, aku sudah tidak sabar bertemu mereka.” Tubuhku terasa seperti disiram air dingin.
Mwo? Oppadeul mau ngadain fans conference? Jeongmal? Kapan? Dimana? Aku baru sadar arti obrolan mereka. Saat aku ingin menanyakan hal yang lebih jelas pada yeoja yang sedang mengobrol tadi, tiba tiba ada segerombolan namja yang menghalangi pandanganku. Hilanglah dua yeoja tadi. T.T
Sampai dirumahpun aku masih memikirkan obrolan teman-temanku. Kenapa aku bisa ketinggalan berita begini? Oh my Gosh ~~ Aku terus mencari berita tentang fans conference E.L.F dengan Super Junior ~~~. Yes ketemu!! Jadwalnya dua hari lagi jam satu siang di gedung LHJ.
What? Dua hari lagi? Di LHJ? Dua hari lagi kan aku harus check up ke dokter diwaktu yang sama, rumah sakit tempat aku check up juga sangat jauh dengan LHJ. Aku tidak bisa membatalkan janjiku dengan dokter, aku bisa kena marah eomma T.T
(Eunhyuk’s POV)
Selalu saja seperti ini. Saat dia mengirim pesan, aku merelakan waktu untuk membalasnya. Tapi kenapa tidak ada replay ulang? Where are you?
“Donghae-ahh. Kesini kau.” Mataku tertuju pada coupleku yang sedang rebut mencari sesuatu.
“Ne, hyuk hyung. Mwoyo?” Donghae berdiri tepat dihadapankudengan menggaruk garuk kepalanya.
“Coba liat deh, dia terus terusan seperti ini. Membuatku penasaran.” Aku memegang pundah Donghae dan menunjuk pesan yang ada di laptopku.
“Hyung, taukah kau kalau aku cemburu?” Donghae memasang muka sok imut sengan puppy eyes. Aniyaa… aku tidak terpengaruh. XD
“Siapkanlah kata mutiara yang bagus untuk fansmu besok lusa. Kita akan mengadakan fans converence.” Ia berdiri dan mulai mencari cari sesuatu seperti tadi.
“Jeongmal? buatlah daftar hadir mereka agar aku bisa menemukan nama ‘Ri_Hyo’ disana!” Sepertinya aku benar benar terobsesi oeh yeoja itu.
“Daftar hadir? Kau pikir kita sedang bersekolah, hyung?” ejek Donghae yang masiiiih saja sibuk sendiri.
“Anggap saja seperti iyu, donghae-ahh” aku menjawabnya dengan santai. Lalau aku kembali menatap layar dan berharap ada replay dari yeoja misterius itu lebe banget XD*
Barangkali saja saat fans converence aku bisa menemukan yeoja itu. Aku akan berterima kasih padanya karena sudah mencintai Super Junior lebih dari yang aku bayangkan.
<dua hari="" kemudian=""> (Park Ri Hyo’s POV)</dua>
Aku bersiap siap untuk check up ke dokter, tapi aku masih bingung bagaimana datang ke LHJ. Semoga saja check up berjalan cepat dan aku bisa ke LHJ setelahnya.
Jam satu tepat aku berada di rumah sakit, gimana kabar oppadeul yang membuka acara fans conference di sana yah? Ah, aku benci seperti ini. Aku juga E.L.F yang ingin bertemu dengan Super Junior. Dokter, cepatlah ~~.
Sipp. Jam dua siang aku keluar dari rumah sakit dan langsung menuju ke LHJ, tapi masalahnya sekarang untuk sampai di LHJ butuh waktu 2 jam lebih. Semoga saja aku tidak telat.
(Eunhyuk’s POV)
Aku beserta member lain bersiap siap menuju LHJ untuk fans conference, semoga disana aku bisa menemukan yeoja misterius yang setiap hari mengirim pesan untukku dan untuk yang lain.
Mobil van yang aku naiki memasuki lapang gedung LHJ, disana sudah banyak kerumunan yang sebagian besar yeoja. Yahh… itu adalah E.L.F, mungkin salah satu dari mereka adalah seseorang yang bernama Ri Hyo. Aku dan 12 member lainnya berjalan masuk ke gedung LHJ dengan dikawal ketat oleh bodyguard. Wajah wajah E.L.F dihiasi senyum kepuasan karena bisa bertemu dengan Super Junior. Aku juga, aku cukup puas melihat E.L.F terseyum bahagia.
Sudah hampir jam 3 sekarang, semoga ada keajaiban untukku bertemu dengan E.L.F bernama Ri Hyo yang selalu mengirim pesan untuk Super Junior tiap harinya.
(Park Ri Hyo’s POV)
Sekarang jam 3 lebih, aku pun memasuki gedung LHJ masih masih ramai. Aku yakin acara fans conference belum selesai. Aku turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung. Penuh sesak memang, tapi aku melawannya agar bisa bertemu dengan oppadeul. acara fans conference belum selesai. Aku turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung. Penuh sesak memang, tapi aku melawannya agar bisa bertemu dengan oppadeul. Ya Tuhaaaan~~ kuatkan akuu. Sebenarnya aku benci kesesakan, karena itu bisa membuatku sulit bernafas. Tapi aku harus berjuang demi mereka, demi oppadeul.
Saat aku hampir melihat namja yang aku yakini itu adalah oppadeul, tiba tiba kepalaku sakit lagi, pandanganku buram tidak bisa melihat dengan jelas, hidungku mimisan, aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Ya Tuhaan, kurang sedikit lagi untuk bertemu dengan mereka, kenapa Kau membuat aku seperti ini?. Sekarang hanya ada ruang hitam gelap dalam pandanganku.
(Eunhyuk’s POV)
Saat acara fans conference ini akan berakhir, tiba tiba terdengar suara ricuh dari arah sekumpulan E.L.F. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi disana, semoga semuanya baik baik saja. Tapi entah mengapa jantungku berdegup kencang saat ada kericuhan disana, aku merasa khawatir.
Lima menit kemudian, manager memberitahuku kalau ada seorang yeoja E.L.F yang pingsan disana. Mwo? Pingsan?
(Eunhyuk’s POV)
Siapakah seseorang yang sedang pingsan disana? Kenapa dia tidak seberuntung E.L.F yang lain? Selama akhir fans conference aku tidak banyak bicara, padahal sebelumnya aku yang paling banyak berkomentar.
Setelah semuanya selesai, aku dan ke12 member lainnya berusaha berjalan keluar dari gedung LHJ. Sangat susah untuk menerobos para E.L.F yang ada disini, sepertinya mereka tidak ingin fans conference ini berakhir. Saat aku berada di lobby, aku melihat gelang yang sangat familiar berada dilantai. Karena aku cukup mengenal gelang tersebut, akhirnya aku mengambilnya dengan cepat . yah, aku tahu banyak E.L.F yang melihat aku membungkuk yang mengambil sesuatu, tapi aku hanya tersenyum pada mereka.
#at SuJu’s dorm
Aku berusaha mengingat tentang gelang ini, tapi mengingat tentang apa? Di gelang ini tertulis SJ_Ri-Hyo.
Mwo? Ri Hyo? Yah… Ri Hyo memakai gelang saat dia mengirim pesan untuk Super Junior. Akhirnya kuputuskan membuka laptop dan melihat apakah yang aku duga benar. Eh eh… STOP STOP STOP, aku melihat Ri Hyo memakai gelang yang sama dengan gelang yang ada ditanganku. Jadi, ini gelang Ri Hyo? Berarti perempuan itu datang saat fans conference.
“Apa yang kau ambil tadi, hyung?” suara si alim itu mengagetkanku.
“Kenapa kau mengagetkanku, siwon-ahh?” aku berbalik dan berusaha mengalihkan perhatian atas pertanyaannya itu.
“Mianhae, hyung. Aku hanya ingin tahu apa yang kau ambil saat di LHJ tadi.” dia menggaruk garuk kepalanya sampai rambutnya acak acakan.
“Aku tidak perlu memberitahunya, nanti kau pasti akan tahu sendiri siwon-ahh” aku tersenyum dan mengalihkan tatapannya.
“Hyung, lihat mataku dan cerita lah! Aku sudah tahu tentang yeoja bernama Park Ri Hyo yang pesannya selalu kau balas. Tapi aku masih ragu, apa benda yang kau ambil itu ada hubungannya dengan Ri Hyo?” dia memaksaku untuk menatap matanya, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi kalau seperti ini.
“Ini gelang Ri Hyo. Aku merasa mengenalnya saat di LHJ, akhirnya aku mengambilnya.” Apa boleh buat, kalau aku menatap mata siwon, aku tidak bisa berbohong padanya.
“Mwo? Ri Hyo beruntung sekali karena gelangnya ada ditanganmu” Siwon memasang wajah sok kaget yang biasa aku lihat setiap hari.
(Park Ri Hyo’s POV)
Setelah aku membuka mata lagi, aku berada diruangan serba putih lagi. tapi aku yakin ini bukan tempat aku berbaring sakit dua minggu yang lalu. Aku masih merasa asing disini. Setelah aku melihat seluruh isi ruangan ini, aku melihat eomma duduk si sofa dan membaca majalah. Aku masih tidak melihat appa, mungkin beliau masih bekerja.
Aku merasa terbodohi oleh diriku sendiri setelah pingsan di LHJ kemarin. Padahal sedikit lagi untuk bertemu oppadeul, tapi kenapa disaat penting seperti itu penyakitku kambuh? Aishh ~~ Tuhan sungguh tidak adil padaku !!
Aku melihat laptop silver tergeletak begitu saja di meja samping tempat tidurku, akhirnya akupun mengambilnya dan menulis sesuatu untuk oppadeul. Aku rasa perasaan kecewaku terhadap kejadian kemarin patut untuk aku sampaikan pada oppadeul.
Annyeong oppa~
Kau memang sudah menjadi mentari yang paling indah di hidupku,
Tapi karena kebodohanku, aku tidak sengaja menjauh darimu.
Aku menjauh dari sinar yang paling terang didunia.
E.L.F ~ Ri Hyo
Yah, tidak akan pernah lupa sebuah foto kecil aku taruh dibawahnya. Foto yang sama dengan pesan pesan sebelumnya, fotoku dengan memakai gelang bertuliskan SJ_Ri-Hyo.
Sudah satu jam aku menunggu balasan dari salah satu oppadeul, tapi kali ini memang tidak ada yang membalasnya sama sekali. L
(Eunhyuk’s POV)
Sejak fans conference kemarin, aku tidak membuka situs Super Junior sama sekali. Entah apa yang membuatku tidak begitu bersemangat, mungkin aku sudah lelah dengan balasan ulang yang aku harapkan dari salah satu fans disana.
Membicarakan tentang fans conference, aku mengingat kalau ada salah satu E.L.F yang pingsan disana. Kira kira siapa dia? Kenapa dia tidak seberuntung yang lainnya? Aku harus mencari tau siapa dia.
Aku sengaja meminta bantuan kepada temanku untuk mencari yeoja yang mempunyai gelang “SJ_Ri-Hyo” itu. Setelah beberapa hari aku mencari kabar tentangnya, akhirnya aku mendapat kabar bagus dari temanku, ternyata sekarang yeoja itu dirawat dirumah sakit setelah pingsan disini beberapa hari yang lalu.
Aku berusaha membujuk hyung dan saengku untuk menjenguknya, aku merasa iba padanya karena ia tidak bisa seberuntung yang lainnya. Lagipula tidak susah untuk kesana, aku sudah mempunyai alamat dan semua yang diperlukan nanti.
Akhirnya setelah aku merayu dengan rayuan sampah, para hyung dan saengku mau menjenguk Ri Hyo di rumah sakit. Entah mengapa aku terlihat begitu care pada Ri Hyo. Ada apa hey?
“Kau begitu semangat, Hyung? Ada apa denganmu?” si Magnae yang usil itu membangunkanku dari sekilas lamunan.
“Semangat? Aku terlihat begitu yah? Ak……” aku menjawab dengan sedikit salah tingkah.
“Tentu saja. Wajah kamu nyengir mulu dari tadi.” Kali ini Teuk Hyung yang tiba tiba memotong perkataanku. Aisssh ~~
“Ah, kau bias saja Hyung. Hanya perasaanmu saja.” Sekali lagi aku menjawabnya dengan sedikit salah tingkah. Bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa aku bias seperti ini.
Akhirnya van yang kita naiki sampai di depan pintu masuk rumah sakit. Sebelum kita keluar, sebaiknya kita memakai kacamata dan jaket tebal. Sudah menjadi modus penyamaran bertahun tahun bagi Super Junior saat berada di keramaian.
Langsung saja aku, hyung, dan dongsaengku menuju kamar nomer 13. Aku melihat sosok perempuan paruh baya berdiri di depan pintu nomer 13, sepertinya itu eommanya Ri Hyo. *Hyukiie sotoy*. Aku pun menghampiri perempuan paruh baya tersebut.
“Annyeong haseyo. Ini benar kamarnya Ri Hyo” mwo? Si magnae lagi lagi ambil bagianku. Maksud kau apaaaaaa?
“Nde, annyeong. Ini kamarnya Ri Hyo. Kalian mau jenguk?” sahut wanita itu dengan nada yang lembut.
“Nde, kita mau jenguk Park Ri Hyo. Jeongmal kamsahamnida.” Lagi lagi si magnae yang menyahutnya. Dimana bagianku?
“Cheonmaneyo,” suara wanita itu sangat halus, lebih halus dari kain sutra *Hyukkie lebeey :D*
Akhirnya aku dan semuanya membuka pintu dan masuk ke kamar tersebut, meskipun sedikit kesal dengan ulah si Kyuhyun. Disana aku melihat perempuan manis yang sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil memangku laptop silver. Diakah Park Ri Hyo?
(Park Ri Hyo’s POV)
Apa yang harus aku lakukan? Hanya tidur dan duduk seperti ini saja? Bosaaan. Adakah yang bias mengeluarkanku dari ruangan serba putih ini? L
Lagi lagi eomma keluar tanpa pamit padaku. Tapi sesaat setelah eomma keluar, aku mendengar ada sekelompok orang di luar sana yang sedang berbicara pada eomma. Aku rasa itu bukan sekelompok dokter, apalagi teman temanku. Tidak mungkiiin. Setelah beberapa menit, aku melihat knop pintu terbuka dan ada sekelompok orang memakai kacamata hitam dan jaket tebal masuk dalam kamarku.
Aku mengenal postur tubuhnya, tapi aku tidak bias melihat wajah mereka. Setelah mereka mendekat padaku dan salah satu dari mereka membuka kacamatanya ……
“Mwo? Hyuk-ppa? Ini benar benar Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk a.k.a Myeol chi a.k.a Monyet a.k.a Machine dancenya Super Junior? Hah? Waaaaaaaaaaaaaaa -------“ aku berteriak sekuat tenaga setelah melihat Hyukkie didepanku. Aku sudah mencoba melukai dan mencubit pipiku, tapi ini memang benar benar kenyataan. Akhirnya aku mengalingkan laptop dari pangkuanku dan memeluk Eunhyuk.
“Ini benar kau, oppa? Aku tidak bermimpi bukan?” aku menatap matanya sambil menangis, sangat terharu bagiku karena bertemu dengan Eunhyuk oppa.
“Nde, jagiyaa. This’s me. Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk a.k.a Myeol chi a.k.a Monyet a.k.a Machine dancenya Super Junior.” Senyum dari mulutnya membuatku menangis lebih kencang.
Mataku berpaling pada segerombol pria dibelakang Eunhyuk, aku tidak tahu pasti berapa jumlah semuanya. Yang pasti, aku sangat mengenal postur tubuh mereka.
“Kalian …… Kalian oppadeul Super Junior?” aku berteriak dengan mata terbelalak, tapi mereka tidak juga membuka kacamata mereka. Aku yakin 10000000000000% kalau mereka oppadeul Super Junior.
“Ayo buka kacamatanya, oppaaaaaaaaa!!” dengan nada memaksa, akhirnya mereka membuka kacamata dengan perlahan. Ini seperti mimpi! Berulang kali aku memukul pipiku untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan, tapi ini memang bener bener kenyataan. Waaaaaaaaaaaaaa!!!! ~~~
“Oppaaaa… Ini benar benar kalian? Aku tidak percaya ini! Kenapa kalian bisa ada disini? Kalian memang ingin menjengukku ya? Omonaa~ yang benar saja, apakah aku sedang bermimpi?” aku berteriak sekencang kencangnya saat itu juga. Bertemu dengan oppadeul adalah sebuah keajaiban untukku, apalagi bertemu seperti ini. Ini adalah mukjizat dari Tuhan.
“Kau sudah banyak bicara. Sekarang berhentilah dan biarkan kita yang bicara. Araseo?” kata kata yang keluar dari mulut si evil bisa membuatku mimisan. #lebe bangeet
“Ne ara, araseo oppa. Ayo bicaralah kenapa kalian bisa ada disini!” aku menjawabnya dengan penuh semangat 45 (?) XD
“Kita datang kesini seperti tertarik magnet. Kekuatan magnetnya besar sekali, sampai sampai kita ikut semua.” Pangeran pujaanku berusaha membuatku tertawa, hahaaaa :D
“Kau pikir kita apa, Hyung? Logam?” sang simba langsung melirik Hyukkie, lirikannya mengerikan sekali.
“Siapa yang bilang kita logam? Kau sendiri kan, siwon-ahh. Ak….” Hyuk oppa memasang wajah innocent. Maklum lah, dia kan nggak mau apes :D
“Sudah lah, jangan bicara sendiri. Sekarang bicaralah padaku, oppa!” aku menyela perdebatan mereka.
“Untuk apa kau tahu itu? Itu tidak begitu penting.” Kata kata Angel without wings membuatku sedikit kaget.
“Lalu apa yang penting, oppa? Aku rasa semuanya tentang kalian adalah hal yang penting, tidak peduli apapun yang dibicarakan.” Aku menyahutnya dengan senyuman. Perkataan leader tadi memang membuat hatiku terasa hangat.
“Yang penting sekarang adalah apa yang harus kita lakukan untukmu. Kita kesini hanya ingin membuatmu senang dan tidak menyesal karena pingsan di fans conference kemarin.” Itulah yang keluar dari mulut Leeteuk oppa. Aissh~~ membuatku semakin bangga saja :D
“Melihat kalian berada didepanku dengan sehat saja sudah membuatku sangat senang.” Aku tersenyum sambil menatap mata semua oppadeul. Aku benar benar merasa seperti terbang.
Sesaat setelah kami semua bercanda dan membicarakan hal yang tidak penting, tiba tiba handphone Leeteuk oppa berbunyi. Namun setelah diam sejenak, Teuk-ppa hanya menjawab, “Araseo”. Apa yang terjadi?
“Mianhae, Ri Hyo-ahh. Kita harus kembali ke dorm sekarang, ada hal sangat penting yang membuat kita harus kembali.” Leeteuk oppa membuat senyum lebar di bibirku kabur. Kenapa harus secepat ini? Aku nggak mauuuu ~~~
“Maafkan kami, Ri Hyo. Kami janji lain kali kami akan datang menemui kau lagi.” Sang pangeran yang aku puja mengucapkan kata kata indah dari mulutnya.
“Tinggalkan nomer handphone kalian disini, aku ingin menghubungi kalian. Keberatan, oppa?” aku berusaha merayu Eunhyuk oppa sebisa mungkin, hanya ini kesempatanku. Aku takut kesempatan indah ini tidak datang dua kali.
“Ne araseo. Berikan kertas itu padaku!” aku pun memberikan selembar kertas dan pena kepada Sang Pangeran yang paling tampan didunia menurutku. (Kyaaaa~~~)
“Beri tahu aku kalau kau merindukan kita, terutama aku.” Pangeran dari langit itu membuat jantungku naik turun (?)
“Ara, setiap hari aku merindukan kalian.” Aku menjawabnya dengan cengiran, aku juga melihat oppadeul yang lain tersenyum padaku.
“Kalau begitu, sampai ketemu lain waktu Ri Hyo.” Suara itu terdengar dari arah paling belakang, tapi aku bisa mengenal suara si ikan :D
“We are Syupe Juni-oyeyo. Annyeong …” serentak semua oppadeul menguacapkan kata itu secara bersamaan. Itu membuatku sedikit bisa tertawa.
“Annyeong, oppa. Saranghae ♥” kedua lenganku aku lengkungkan diatas kepala sampai terlihat seperti love.
“Saranghaeyoo~~” oppadeul membalas dengan gerakan yang sama. Akhirnya mereka keluar dengan menggunakan kacamata dan jaket yang super tebal sampai menutupi wajah mereka.
Aku masih berpikir ini adalah mimpi, aku terus memukul pipiku hanya untuk memastikan ini mimpi atau nyata. Alhasil, pipiku menjadi merah karena tamparanku yang berkali kali.
Aku merasakan aku tidak seperti orang yang sedang sakit sekarang, semuanya sudah menjadi lebih baik karena oppadeul. Kamsahamnida, oppaaa …
#at tomorrow
Akhirnya dokter mengijinkanku meninggalkan ruangan ini. Dokter memujiku karena kesehatanku membaik secara drastis, hahaaa itu semua berkat oppadeul. Kamsahamnida, oppa~~~.
Dulu ruangan ini sangat aku benci, namun seburuk buruknya tempat ini, dimataku ruangan ini sangat bersejarah. Disinilah tempat aku bersama oppadeul berbahagia, tertawa, bercanda, saling memuji dan lainnya.
Akhirnya aku pulang ke rumah dengan keadaan sehat. Aku tidak terlihat seperti orang yang baru sembuh dari sakit, tapi aku terlihat seperti orang yang pulang dari rekreasi dengan senyum sumringah.
Ah, aku kangen mereka. “Beri tahu aku kalau kau merindukan kita, terutama aku.” Aku mengingat kata Hyuk oppa saat mereka akan pergi. Apa aku harus menghubungi mereka? Haruskah? Iya deh, mumpung ada kesempatan.
To : Prince Hyukkie (aku menyimpan nomer handphone Eunhyuk oppa dengan nama itu)
Eunhyuk oppa~~ aku Ri-Hyo, Park Ri-Hyo. Masi ingat oppa?
Aku mengingat perkataanmu saat kau dan oppadeul lainnya ada di rumah sakit, kau bilang aku bisa menghubungimu kalau aku sedang merindukanmu. Aku merindukanmu setengah mati, oppa.
Kalau kau tidak sibuk, balas pesanku ini ya oppa…
Pesan itu terkirim dengan cepat. Aku masih sedikit tidak percaya kalau sekarang aku sudah bisa menghubunginya dengan mudah. Kyaaa~~~ Tuhan kau sungguh baik padaku.
Sesaat setelah aku tersenyum sendiri di kamar, tiba tiba …
Neo gateun saram tto eopseo
Juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol
Eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram
Neo gatchi joheun saram
Neo gatchi joheun ma eum
Neo gatchi joheun seonmul
Nada pesan masuk di handphoneku berbunyi, nuguseyo?
Kyaaa~~ ternyata hyukkie oppa masih menyempatkan diri membalas pesanku. Jingkrak jingkrak deh di kasur :D
From : Prince Hyukkie
Ri-Hyo? Nuguya? Aku tidak mengenalnya. (Ri Hyo : Mwo? Tidak kenal? Bagaimana bisa? Air mata di mataku hamper keluar, aku terus melanjutkan balasan pesan itu.)
Hahaaa, hanya bercanda Ri-Hyo ahh. Mana mungkin aku melupakan gadis cantik sepertimu. Ternyata kau memang suka merindukanku ya? Yah, aku memang pantas untuk kau rindukan. Haaaaaa!!! :D
Kita sedang tidak sibuk, karena itu aku bisa membalas pesanmu. Aku ingin juga membeli beberapa keperluan. Kalau kau mau ikut, aku akan menjemputmu. Kirimkan alamatmu, hyo-ahh~
Mwo? Aku boleh ikut Eunhyuk oppa. Saat aku melihat oppadeul di rumah sakit untuk menjengukku saja itu sudah cukup, tapi sekarang aku mendapatkan kesempatan yang belum orang dapatkan seumur hidup. Apakah doa doaku kepada Tuhan terlalu tulus? Hidupku sudah terlalu sempurna sekarang. Hadiahmu terlalu indah, Tuhan.
Setelah cukup lama aku ngobrol dengan Tuhan, akhirnya aku membalas pesan dari Hyuk oppa.
To : Prince Hyuk
Mwo? Kau mengijinkanku untuk ikut denganmu? Aigoo~~ kau sungguh sempurna, Eunhyuk oppa. Rumahku berdiri tegak di Jalan Raya Biru no. 13. Tidak susah untuk menemukannya kan? Aku akan bersiap-siap untukmu, oppa.
Lagi lagi pesan itu terkirim dengan cepat. Setelah membalas pesan dari Hyuk oppa, aku langsung bersiap siap. Tampil dengan dandanan yang paling sempurna. Aku tidak suka berdandan sebenarnya, tapi inii semua untuk Eunhyuk oppa. Aku rela mengorbankan semuanya *nggak semua sih :D.
Semuanya sudah siap, tapi handphoneku tidak bordering lagi. Ayolah oppa, aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Setelah kira kira setengah jam menunggu ….
Ddanddaranddan, Ddanddaranddan, Ddanddaranddan, Ddandaddarabba
Ddanddaranddan, Ddanddaranddan, Ddanddaranddan, Ddandaddarabba
Neon alggamalgga alggamalgga neomu yebbeun mina
Nal michyeotdago malhaedo nan niga jotda miina
Nuga jeonhae jweo my baby, to my baby
Naega yeogi itdago malya
Gidalinda maly …….
Nada telpon handphoneku berbunyi, disana tertulis
“Prince Hyuk calling you …”
Dengan cepat aku mengangkat telepon itu.
“Yeoboseo, oppa.” Aku menjawab dengan nada semangat,
“Ri-Hyo ahh, mianhaeyo,” suara Hyuk oppa sudah aku hafal, tapi nadanya saat berbicara padaku sangat lesu. Sepertinya ada yang terjadi padanya L
“Waeyo, oppa? Kau baik baik saja kan? Suaramu terdengar tidak bersemangat. Jangan membuatku khawatir, oppa.” Aku menjawbnya dengan segera, sebenarnya ada apa dengannya?
“Aku tidak bisa menjemputmu, aku ada urusan mendadak. Jeongmal mianhae, aku sungguh menyesal.” Dia menjawab dengan nada yang sungguh tidak bersemangat, sepertinya Hyuk oppa benar benar menyesal.
“Mwo? Yah, gwaenchana oppa. Aku berpikir urusanmu lebih penting. Fighting oppa!!” sedikit kecewa memang, tapi biarlah Eunhyuk oppa menyelesaikan urusannya. Aku bisa memakluminya.
Saat aku akan menghapus make-up di wajahku, suara bel rumahku berbunyi.
Kriiiing ~~
“Aduuuh, siapa sih ni? Nggak tau orang lagi galau apa yah! @#*^&$*#)&^%!!)*~?,” kuurungkan niatku menghapus make-up. Aku beranjak keluar dari kamar dan berjalan ke arah pintu dengan mulut yang masih komat kamit.
Aku membuka pintu tanpa melihat siapa orang yang dating dari jendela. Ternyata…
“SURPRICEEEE!!!” suara itu sudah sering aku dengar, setiap hari malah. Dia adalah orang yang menutup badannya dengan jaket tebal, matanya juga dilindungi kacamata hitam. Perlahan aku mengamati detail demi detail yang ada pada setiap orang tersebut. Akhirnya dia membuka kacamata juga.
“EUN…” aku langsung berteriak, tapi…
“Ssssstttttt … ayo masuk dulu, jangan teriak disini. Sedang ramai!” laki laki itu meletakkan telapak tangannya di mulutku, isyarat agar aku mengurungkan niat untuk teriak. Dia mendorongku masuk ke dalam rumah.
“Sekarang teriaklah! tapi jangan terlalu keras.” Akhirnya dia melepaskan tangannya dari mulutku.
“HYUK OPPAAAAA… KAU JAHAT! TADI KAU BILANG TIDAK BISA MENEMUIKU, KAU SUNGGUH MEMBUATKU SEDIKIT GELISAH.” Jantungku seperti hampir copot. Aissh ini bukan mimpi, ini kenyataan lagi. Hahaa :D beruntungnya menjadi diriku.
“Kan surprice. Baiklah ayo berangkat. Kelihatanya kau sudah siap dengan make-up yang manis itu.” Hyuk oppa mencubit pipiku. Waaaaaaaaaaaaa~~~ XD XD
“Araseo, oppa. Come on!!” aku mengangguk dan menarik Eunhyuk oppa keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir rapi di depan rumah. Langsung saja Hyuk oppa menarik jaket dan
#on the way
“Kau tahu oppa, sesaat sebelum kau membunyikan bel di rumahku, aku mempunyai niat untuk menghapus make-up dan mulai ganti baju.” Aku menoleh dan melihat sosok pangeran tampan dari surge duduk disebelahku dengan menyetir mobil.
“Tidak perlu tampil cantik dihadapanku, aku menyukai semua orang apa adanya. Kalau aku menyukai seseorang karena perubahannya, maka itu bukan rasa suka melainkan perjanjian. Sayangnya aku tidak pernah menggabungkan perjanjian dengan rasa suka.” Pangeran tiu muai membalas perkataanku. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah mutiara bagiku. Sungguh mempesona.
“Kau sungguh mempesona, oppa~” aku menyahutnya dengan semangat. Mobil yang kita naiki berjalan sedikit pelan dan mulai berjalan kea rah samping jalan. Akhirnya kita berhenti didepan took aksesoris yang menurutku sangat besar.
“Itu memang sejak dulu. Oke, aku akan membeli beberapa aksesoris ditoko ini. Ayo, Ri-Hyo ahh!!” Dia menoleh padaku dan tersenyum. Omonaaaa~~ tuh senyuman bikin mimisan :D
“Araseo, oppa.” Aku pun keluar dari mobil. Eunhyuk oppa juga keluar dari mobil dengan jaket yang menutupi badan, kacamata yang sedikit menutupi wajahnya.
Setelah berada di dalam, aku takjub pada took aksesoris ini. Aku tidak pernah masuk ke accecoris shop yang sebesar ini. Aigoo~~
Saat berada di dalam, Eunhyuk oppa langsung berjalan menuju koleksi kacamata tanpa memperdulikan aku. Kenapa aku merasa tersaingi dengan kacamata itu? Iissshhh ~~
“Ri-Hyo ahh kemarilah! Apa ini cukup bagus untukku? Ini dibuat secara limited. Hanya ada dua yang seperti ini, yang satu bisa untuk kau.” Dia memegang kacamata yang menurutku sangat bagus. Mwo? Yang satu untukku? Yang benar saja?
“Bagus, oppa. Kau terlihat lebih tampan dari biasanya kalau kau memakainya.” Aku tersenyum padanya. Aku meyakinkannya dengan anggukan pasti.
“Yakin? Ara, yang satu untukmu.” Eunhyuk memasang wajah sok imut. Hyaaa~~ sangat lucu.
“Jinjja? Ah, tidak perlu oppa. Bersamamu saja sudah cukup untukku, lagipula aku tidak mau merepotkanmu oppa.” Aku tersenyum padanya, berusaha meyakinkan kalau aku benar benar tidak mau merepotkannya.
Walaupun ini kesempatan, aku tidak harus memanfaatkan kesempatan itu. Semua yang Tuhan berikan padaku sudah cukup, ini sudah terlalu sempurna. Aku tidak pernah meminta yang lain lagi pada Tuhan untuk saat ini selain meminta kesehatan oppadeul selalu baik.
“Aniyoo, kau pikir aku keberatan memberimu kacamata seperti ini? Ayo lah, mumpung aku sedang baik. Biasanya kan aku yang dibeliin sama hyung atau saengku.” Lagi lagi Eunhyuk oppa memasang wajah so imutnya sambil nyengir.
“Ara, oppa. Kapan lagi aku mendapat sesuatu dari pangeran sepertimu.” Aku tersenyum padanya.
Setelah sangat lama Eunhyuk oppa membeli aksesoris yang lainnya, akhirnya kita pulang. Waktu berjalan dengan cepat dan cukup melelahkan hari ini, tapi semuanya terbayar dengan adanya pangeran paling tampan dari surga.
Lebih dari 10 jam aku bersama Eunhyuk oppa. Karena aku sudah cukup lelah, akhirnya aku meminta Eunhyuk oppa mengantarku pulang. Merasa kecewa karena harus berpisah dengannya, tapi aku juga tidak bisa selamanya bersama Eunhyuk oppa.
Di jalan saat pulang aku mengobrol banyak dengan oppa, bercerita tentang keadaan di dorm, dan semuanya tentang Super Junior. Aku tidak pernah berhenti bersyukur kepada Tuhan, aku tidak pernah berpikir akan sangat akrab seperti ini dengan Super Junior.
Setelah sampai dirumah…
“Kamsahamnida, Eunhyuk oppa. Kau memang pangeran paling tampan dari surga yang sengaja dikirim Tuhan untukku.” Sebelum aku keluar dari mobil, aku mengucapkan kata kata itu.
“Dari dulu aku memang pangeran dari surga. Tidak perlu mengucapkan terima kasih untukku, Super Junior dan E.L.f memang ditakdirkan bersama.” Eunhyuk oppa langsung menjawab perkataanku.
“Jaga kesehatanmu baik baik ya, oppa. Makan yang banyak supaya badanmu lebih berisi. Aku juga mau titip salam ke semua member Super Junior, aku ingin mereka menjaga kesehatan mereka baik baik. Aku tidak mau melihat mereka termasuk kau juga sakit. Kau juga harus berusaha keras untuk Super Junior.” Kata kata itu tiba tiba keluar dari mulutku.
“Araseo, saeng. Kau juga jaga kesehatan, aku tidak mau melihatmu berbaring di rumah sakit lagi.” Hyuk oppa tersernyum dan mengacak acak rambutku.
Aku hanya tersenyum sambil merapikan rambutku yang sudah terlalu berantakan lalu keluar dari mobil. Sebenarnya tidak sanggup untuk pergi dari oppa, tapi tidak mungkin juga aku bersamanya selamanya.
“Annyeong, oppa.” Sebelum menutup pintu mobil aku tersenyum dan mengucapkan kata terakhirku padanya.
“Annyeong, Ri-Hyo ahh.” Eunhyuk oppa membalas senyumanku dengan cengiran yang amat lebar. Aku bisa melihat ketampanannya saat dia tersenyum. Sungguh sempurna.
(Eunhyuk’s POV)
Semenjak aku bertemu dengannya di rumah sakit, aku merasakan kenyamanan saat di dekatnya. Entah apa yang aku rasakan, sepertinya aku mulai nyaman. Terasa berat untuk meninggalkannya, sebenarnya aku ingin selalu bersamanya, selalu menemaninya.
Saat berjalan pulang dari rumahnya, aku mulai merasakan apa itu kesepian. Hey!! Apa yang terjadi padamu, Hyuk? Kenapa kau jadi seperti ini? Aku mulai berbicara pada diriku sendiri seperti orang gila. Aku masih mengingat saat dia tertawa lepas, saat dia tersenyum padaku, aku merindukan itu. Mungkin terlalu cepat untuk mengatakan rindu pada semua tingkah lakunya, tapi memang itu yang aku rasakan.
Akhirnya sampai juga di dorm, aku mulai berpikir apa yang Ri-Hyo lakukan sekarang. Loh? Kenapa aku terus memikirkannya? Akhirnya aku keluar dari mobil dan mulai berjalan masuk menuju dorm.
“Dari mana saja kau, Hyung?” simba mengagetkanku saat aku masih berada tidak jauh dari pintu. Jantungku terasa seperti mau copot.
“Kau mengagetkanku, siwon-ahh. Dasar kau!” aku menjawabnya dengan mengelus dadaku.
“Mianhae, hyung. Tapi jau belum menjawab pertanyaanku.” Siwon mulai memaksaku menjawab pertanyaannya. Iihh, usil aja deh.
Aku berjalan ke ruang tempat aku dan semuanya biasa berkumpul. Aku bisa melihat hyung dan saengku sedang duduk bercanda di sana. Siwon masih berjalan mengikutiku, mungkin dia menginginkan jawaban dariku.
“Aku baru saja membeli beberapa keperluan. Waeyo? Kau mau?” aku mengangkat tas yang baru aku beli bersama Ri-Hyo tadi.
“Aniyoo, aku hanya ingin tahu Hyung. Tapi dengan siapa kau membeli itu? Bukannya kau tidak suka membeli keperluan sendiri?” Siwon tersenyum sampai lesung pipit di pipinya terlihat jelas.
“Kau mau ingat yeoja yang kita jenguk di rumah sakit kemarin, bukan? Dia sudah sehat dan sudah kembali ke rumahnya. Bersama dialah aku membeli semua ini. Aku juga membeli kacamata kembar ini dengannya.” Aku mengeluarkan kacamata dari tas yang aku pegang dan menunjukkannya kepada Siwon.
“Hey! Itu bagus, Hyuk-ahh.” Suara Hyungku yang paling tua terdengar dari belakang. Dia berjalan menghampiriku dan Siwon.
“Kau membeli ini dengan Ri-Hyo? Kenapa kau bisa dengannya?” Leeteuk oppa mengambil kacamata dari tanganku dan mulai bertanya konyol.
“Tadi dia bilang kalau dia merindukanku, jadi aku mengajaknya jalan jalan.” Cengiranku mungkin cukup membuat Leeteuk hyung dan Siwon terbelalak.
“Apa dia bilang merindukanku juga?” Hyung mulai bertanya lagi dan nyengir menatapku.
“Ya, dia juga merindukan semua yang ada disini. Tapi dia lebih merindukanku, aku kan nomer 1 disini.” Kubalas cengiran Leeteuk hyung dengan cengiran yang lebih mematikan, berharap cengiranku bisa membuatnya tidak bertanya lagi.
“Aku merindukannya.” Siwon menyela perkataanku.
“Kita semua juga merindukannya.” Leeteuk hyung menambahkan.
“Dia menitipkan pesan untuk kalian. Dia ingin kalian menjaga kesehatan, dia tidak mau melihat kita sakit atau yang lainnya. Dia juga ingin kita berjuang untuk Super Junior.” Aku menoleh pada semua yang ada disana dan tersenyum.
“Kita akan menjaga kesehatan untuknya dan untuk semuanya.” Sekejap Donghae menjawab.
“Kita juga akan berjuang keras demi Super Junior dan semuanya.” Yesung oppa akhirnya ambil alih bicara.
#at tomorrow
(Park Ri Hyo’s POV)
Aku merasa hari ini terasa kosong, entah apa yang kurang. Hari ini aku libur sekolah, sangat tidak mungkin untukku pergi kesekolah. Aku memang selalu merindukan oppadeul setiap hari, tapi sekali lagi aku tidak mungkin bersama mereka selamanya.
Aku mengambil foto oppadeul Super Junior dan memandanginya. Karena aku bingung ingin melakukan apa, akhirnya aku merobek secarik perkamen biru dan mulai menulis disana.
“Hari ini aku merasa aneh, aku merasa seperti kehilangan setengah nyawaku. Sangat aneh memang, tapi ini benar benar aku rasakan. Aku tidak bisa menolak jika nanti akhirnya aku mati ditanganmu, Tuhan. Aku sudah bahagia sekarang, mati setelah aku mendapatkan sesuatu yang tidak terkira adalah kebahagiaan yang abadi. Terima kasih karena kau sudah mempertemukan aku dengan mereka (Super Junior), Tuhan. Mereka yang selalu ada di setiap mimpiku, mereka yang selalu menjadi bayangan untukku, mereka yang menjadikanku sosok jyang lebih kuat dari sebelumnya.
Aku mencintai Super Junior seperti aku mencintai diriku sendiri. Tapi disisi lain aku mencintai Eunhyuk oppa seperti aku mencintai-Mu, Tuhan. Ruang kosong dihatiku adalah Kau (Tuhan) yang memberiku nikmat keajaiban yang tak terkira, appa-eomma yang selalu menyayangiku setiap saat, dan Super Junior yang memberiku kebahagiaan seutuhnya.
Aku tidak pernah mengharap kalian mencintaiku, oppadeul. Aku hanya ingin kalian bangga padaku. Karena dengan bangga, kalian bisa selalu mengingatku setiap saat.
Hidupku sudah lengkap sekarang, aku tidak ingin meminta lagi pada-Mu, Tuhan. Aku sudah cukup bahagia, kebahagiaan ini tidak akan aku lupakan sampai matipun.
Sekali lagi terima kasih untuk Tuhan karena membuat hidupku sempurna, terima kasih untuk appa-eomma yang memberiku kasih saying tak terhingga, dan terima kasih untuk oppadeul Super Junior karena telah membuat kebahagiaanku utuh dengan sempurna. Terima kasih untuk semuanya… Aku mencintai-Mu Tuhan, aku mencintaimu appa-eomma, aku mencintai kalian oppadeul. Aku mencintai kalian semua. Saranghaeyo…♥”
Aku menulis itu semua dengan spontan, tidak pernah terpikir untuk menulis sebanyak itu. Tapi lagi lagi hidungku mengeluarkan darah dengan tiba tiba, dadaku terasa sakit, kepalaku sudah terasa pusing, ini lebih sakit dari sebelumnya. Aku tidak pernah merasakan sakit yang hebat seperti ini, ini adalah sakit paling parah yang pernah aku rasakan selama hidup.
Setelah beberapa lama aku merasakan rasa sakit yang sangat menyiksa, akhirnya aku bisa lega karena tidak merasakannya lagi. Tapi sekarang aku berada di ruangan serba putih, bukan ruangan rumah sakit yang biasa aku berbaring disana. Disini tidak ada barang satupun, aku sendirian. Sebenarnya dimana aku?
Saat aku melihat sekeliling ruangan ini, tiba tiba ada suara yang berbisik padaku.
“Kau ada di surga, Ri-Hyo. Kau sudah meninggalkan semua yang kau punya didunia.”
Apa semua ini benar? Apa aku sudah mati? Apa aku benar benar meninggalkan semuanya yang ada didunia?
(Eunhyuk’s POV)
Aku lupa mengembalikan gelang Ri-Hyo yang jatuh saat fans conference beberapa minggu yang lalu. Apa aku harus mengembalikannya? Ah tidak, bukan aku yang akan mengembalikannya. Tapi kita semua, kita semua akan bersama sama mengembalikannya.
Entah mengapa aku merasa aku harus mengembalikan gelang ini sekarang juga. Akhirnya aku dan semuanya berangkat menuju rumahh Ri-Hyo, aku sudah tidak sabar bertemu dengannya lagi. Aku yang menyetir, karena hanya aku yang tahu dimana rumah Ri-Hyo.
Setelah sampai di depan rumahnya, aku merasa ada yang aneh. Kenapa disini banyak sekali mobil? Kira kira jumlahnya lebih dari 20 mobil, aku tidak yakin semua mobil ini adalah milik Ri-Hyo. Akhirnya aku dan semua hyung-saengku keluar dari van dan mulai masuk ke rumah Ri-Hyo. Aku masuk ke rumahnya dengan membawa gelang Ri-Hyo digenggamanku.
Di dalam rumah ini penuh isak dan tangis, aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Aku mencoba menoleh pada semua orang, tapi semua orang tidak memperdulikan siapa saja yang datang. Semua orang menangis dan saling memeluk satu sama lain. Hey!! Sebenarnya apa yang terjadi? Aku juga tidak melihat batang hidung Park Ri-Hyo.
Akhirnya aku melihat sosok wanita paruh baya berdiri disamping tangga dengan menangis, aku bersama hyung dan saengku menghampirinya. Berusaha tahu apa yang terjadi disini.
“Annyeong haseyo.” Aku menundukkan badan kepada wanita itu. Aku yakin dia adlah ibu Ri-Hyo.
“Annyeong…” wanita itu menolehku dan semua hyung-saengku, kemudian dia melihat kertas yang sepertinya adalah foto. Lalu wanita itu memelukku dan kembali menangis.
“Mianhae, sebenarnya apa yang terjadi?” Leeteuk hyung berusaha meluruskan masalah, hyung mulai bertanya kepada wanita paruh baya itu.
“Maafkan aku karena tidak bisa menjaga Ri-Hyo dengan baik. Ini semua salahku karena tidak bisa melindungi Ri-Hyo. Mianhaeyo…” wanita itu melepaskan pelukannya dan berbicara dengan isakan tangisnya.
“Apa yang terjadi dengan Ri-Hyo? Apa dia masuk rumah sakit lagi?” Aku kembali bertanya pada wanita didepanku itu, berusaha tahu secara pasti apa yang terjadi.
Wanita paruh baya tersebut mengajakku dan yang lain mengikutinya. Aku tidak bisa menebak dengan pasti apa yang terjadi. Akhirnya aku mulai masuk ke ruagan yang bisa disebut sebagai ruang keluarga. Disana ada segerombolan orang mengerubungi sesuatu. Aku tidak tahu pasti apa, yang jelas sesuatu itu tersimpan dalam kotak kayu berukir. Perasaanku mulai buruk, aku mulau berpikir kacau dan gelisah. Tapi tidak tahu apa yang aku pikirkan.
Aku berusaha menyela orang orang yang ada disana dan mulai melihat apa yang ada disana. Setelah aku melihat apa yang ada dalam kotak kayu itu, rasanya seluruh tubuhku terguncang, aku tidak merasakan apa apa, gelang Ri-Hyo yang tadi aku genggam erat sekarang jatuh, tubuhku terasa sangat lemas. Tidak terasa air mata dimataku keluar.
Aku berharap ini bukan kenyataan, aku harap ini adalah mimpi, aku ingin segera bangun dari mimpi ini, ini sungguh mimpi buruk. Aku berusaha memukup pipiku agar aku bisa bangun dari mimpi buruk, tapi kenyataannya aku hanya merasakan sakit. Jadi ini memang benar benar kenyataan?
Aku melihat hyung dan saengku, mereka menangis tanpa kata. Aku berusaha mengusap air mata dipipiku, tapi semakin aku mengusap air mataku, semakin deras air mata yang keluar lagi.
Aku masih mengingat senyum lebar dari mulut Ri-Hyo kemarin, masih melihat kelucuan saat dia melakukan kekonyolan. Tapi sekarang aku melihat kepucatan di wajah Ri-Hyo, tidak ada senyum di bibirnya.
Aku ingin berteriak sekencang kencangnya saat itu juga, aku ingin meluapkan isi hatiku. Aku tidak ingin semua ini terjadi, aku ingin semua sandiwara ini berakhir. Setelah lama aku menangis disana, Ri-Hyo eomma kembali memberi isyarat padaku agar aku dan semua hyung-saengku mengikutinya.
Kali ini sepertinya aku diajak dikamar Ri-Hyo. Yaap, benar. Beliau mengantarkankan kita di kamar yang dipintunya terdapat tulisan
“E.L.F. sarang Super Junior”
“Park Ri-Hyo love Super Junior”
Sungguh mengejutkan, saat aku masuk di kamar itu, aku melihat begitu banyak poster Super Junior yang terpampang disana. Semua dindingnya tertempel poster Super Junior, sampai sampai aku tidak melihat celah tembok yang kosong. Inilah kamar Ri-Hyo yang sangat mencintai Super Junior.
Tiba tiba Ri-Hyo eomma memberiku perkamen biru yang berisi tulisan rapi, namun aku melihat bekas cairan berwarna merah darah dibagian bawah perkamen itu. Aku mulai membacanya, tidak terasa air mata dimataku kembali jatuh.
“Itu surat terakhir yang Ri-Hyo tulis.” wanita paruh baya itu berbicara padaku sambil meneteskan air mata, lalu aku menolehnya sekejap.
Aku membacanya sampai selesai, lalu aku memberikannya pada Donghae. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku hanya bisa duduk diranjang tempat tidur Ri-Hyo dan menangis. Aku berpikir Tuhan tidak adil pada kita (Super Junior). Mengapa kau mengambil seseorang yang sangat kita cintai, Tuhan? Kau sungguh kejam! Aku marah dan mulai menyalahkan diriku sendiri. Donghae dan Leeteuk hyung yang tepat berdiri disampingku mengelus pundakku dan berusaha mengatakan aku harus sabar.
Ri-Hyo, kau jahat sekali. Kau meninggalkan kita terutama aku disini, apa kau sudah tidak ingin bertemu dengan kita? Apa kau sudah tidak menyukai kita lagi? Aku tidak pernah bertemu dengan perempuan paling tegar selain kau didunia ini. Aku bangga padamu, Ri-Hyo. Meskipun kau tidak memintaku untuk mencintaimu, tapi aku mencintaimu dari hatiku, ini bukan paksaan, ini murni dari dalam hatiku.
Semoga kau bahagia disurga, Ri-hyo ahh. Meskipun kita tidak bisa melihat sosokmu lagi, tapi aku berharap kau melihat kami. Aku tahu kau bisa melakukannya, Ri-Hyo ahh.
Neomu neomu neomu saranghaeyo, Ri-Hyo ahh ~~~
(Park Ri Hyo’s POV)
Aku memang berada disurga saat ini, ternyata Tuhan mengabulkan keinginanku. Tapi aku tidak selamanya berada disini, setiap waktu aku berusaha melihat apa yang oppadeul lakukan didunia. Aku berharap mereka selalu tersenyum bahagia.
Oppa… selamat jalan, aku masih mencintai kalian sampai saat ini. Saranghaeyo … ♥♥♥♥♥
== THE END ==
-DONT COPAS-
Kamis, 17 November 2011
Kamis, 03 November 2011
PLEASE HELP VOTE FOR SUPER JUNIOR TO WIN GDA.
1. Open this link: HTTP://SPORTS.CHOSUN.COM/ENTER /RANKING/MAIN+.HTM
2. Click on Super Junior-Mr. Simple picture. [ All the way down ]
3. Then wait till dialog box appear, click OK.
4. After that, the page will change to: HTTP://SPORTS.CHOSUN.COM/, just close that page.
5. Repeat the steps above. You can vote many times.
vote to let suju win the GDA ^__^
PLEASE SPREAD IT AND VOTE AS MANY AS YOU CAN THANKS THANKS THANKS^^
cre. sup3rjunior
dan dukung Super Junior di MAMA - Mnet disini http://mama.mnet.com/en/vote.asp
Langganan:
Komentar (Atom)